Bencana Ekologis di Indonesia, Wahabi Lingkungan, dan Tugas Bersama

1 hour ago 2
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Oleh : Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 ini kembali menyadarkan kita bahwa krisis ekologis di Indonesia telah memasuki fase genting.

Wilayah yang selama ini dikenal memiliki hutan luas dan kawasan konservasi ternyata tidak mampu menahan curah hujan ekstrem yang turun berhari-hari. Akibatnya, rumah hanyut, sawah tenggelam, jembatan putus, dan ribuan warga mengungsi.

Di tengah situasi ini, Presiden Prabowo Subianto meminta sekolah-sekolah menambah silabus tentang kesadaran menjaga hutan. Seruan tersebut tepat—bahkan mendesak—karena akar dari bencana ekologis kita bukan sekadar fenomena alam, melainkan perilaku manusia yang merusak lingkungan. Namun penambahan silabus saja tidak cukup. Ia harus diikuti dengan perbaikan tata kelola lingkungan dan pembenahan moral ekologis bangsa.

Hujan Ekstrem Bukan Satu-satunya Penyebab

Secara meteorologis, curah hujan yang sangat tinggi di Sumatra bagian utara dan barat dipicu kombinasi fenomena global: La Niña, pemanasan Samudra Hindia, serta pergeseran Intertropical Convergence Zone (ITCZ). Kondisi ini menyebabkan pembentukan awan cumulonimbus yang terus-menerus, sehingga hujan deras turun tanpa henti.

Namun faktor alam bukan penyebab tunggal. Banjir bandang menjadi begitu destruktif karena daya dukung ekologis kita telah melemah. Banyak daerah hulu yang dulu berhutan kini berubah menjadi: Perkebunan sawit dan kebun campuran, Area tambang dan galian C, Permukiman baru di lereng bukit, Lahan terbuka yang mengikis kemampuan tanah menyerap air.

Sungai-sungai dangkal akibat sedimentasi, sementara tata ruang pada banyak daerah tidak lagi mematuhi kaidah konservasi. Ketika hujan ekstrem bertemu lanskap yang telah rusak, bencana besar pun tak terhindarkan. Ini yang oleh para ahli disebut bencana ekologis—bukan semata-mata bencana alam.

Pendidikan Lingkungan: Penting, tapi Tidak Cukup

Seruan Presiden agar sekolah menambah silabus kesadaran menjaga hutan patut diapresiasi. Pendidikan lingkungan pada generasi muda diharapkan dapat membangun budaya ekologis sejak dini, menguatkan rasa memiliki terhadap hutan dan Sungai, mengurangi perilaku merusak alam pada generasi berikutnya.

Namun pembelajaran di kelas tidak akan efektif tanpa konsistensi kebijakan di lapangan oleh para pemegang kebijakan. Kurikulum sekolah harus bersanding dengan:

1. Penegakan hukum yang tegas terhadap pembalak liar, mafia tanah, dan pertambangan ilegal.

2. Rehabilitasi besar-besaran daerah aliran sungai dan kawasan hulu.

3. Pengendalian tata ruang yang benar-benar dijalankan, bukan hanya dokumen formal.

4. Kolaborasi dengan masyarakat adat, penjaga alam paling konsisten di Nusantara.

Dengan kata lain, pendidikan adalah fondasi. Tetapi ekosistem yang sehat membutuhkan bangunan kebijakan yang kokoh di atasnya.

Read Entire Article