Laras Faizati Bacakan Pledoi Kasus UU ITE: Ini Murni Suara Hati

4 weeks ago 8
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
 Ini Murni Suara Hati Laras Faizati, terdakwa dalam dugaan kasus penghasutan pembakaran gedung Mabes Polri pada kerusuhan Agustus lalu.(MI/Abi Rama)

TERDAKWA kasus dugaan provokasi media sosial, Laras Faizati, menegaskan bahwa unggahannya terkait insiden tewasnya Affan Kurniawan hanyalah bentuk ekspresi kemanusiaan seorang warga negara, bukan hasutan untuk berbuat keonaran. Hal tersebut disampaikan Laras dengan emosional saat membacakan nota pembelaan (pledoi) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (5/1).

Hadir mengenakan pakaian serba putih dengan bando kuning, Laras menolak keras tuduhan bahwa dirinya berniat memprovokasi publik. Ia menekankan bahwa narasi yang ia bangun di media sosial murni lahir dari rasa empati dan keprihatinan mendalam atas kekerasan yang terjadi.

“Saya menulis pembelaan ini dari hati nurani saya, sama seperti tulisan yang menjadi perkara. Itu adalah suara hati saya sebagai manusia dan sebagai masyarakat,” ujar Laras di hadapan majelis hakim.

Dampak Psikologis dan Sosial

Dalam pembelaannya, Laras menyoroti dampak berat yang harus ia tanggung akibat proses hukum yang menjeratnya sejak Agustus lalu. Ia mengaku hidupnya berubah drastis hanya karena sebuah unggahan yang disalahartikan.

“Di usia 26-27 tahun, saya harus masuk penjara, meninggalkan rumah, kehilangan pekerjaan saya, dan kehilangan kebebasan saya, hanya karena saya menyampaikan suara hati,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Laras menjelaskan, reaksi emosionalnya di media sosial dipicu saat melihat video insiden kekerasan aparat dalam demonstrasi yang menewaskan warga sipil. Ia bersikeras bahwa kalimat bahasa Inggris yang ia gunakan adalah bentuk pengandaian linguistik (conditional), bukan perintah faktual.

“Perasaan saya saat melihat video itu tentu kaget, sedih, marah, dan resah. Saya menulis sebagai bentuk keprihatinan dan kemanusiaan. Kalimat-kalimat yang saya tulis adalah pengandaian dan ekspresi. Itu bukan perintah, bukan ajakan, dan bukan niat untuk menyakiti siapa pun,” tegas Laras.

Sebagai informasi, kasus ini bermula ketika Laras membagikan ulang video kekerasan aparat terhadap demonstran. Penyidik menilai takarir (caption) yang dibuat Laras mengandung unsur provokasi yang melanggar Undang-Undang ITE, meskipun pihak terdakwa konsisten menyebutnya sebagai kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi. (Z-10)

Read Entire Article